Cendana sebagai Komoditi
Makalah
Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, April 2019
MANFAAT
EKONOMI CENDANA (Santalum album) SEBAGAI KOMODITI KEHUTANAN
Dosen Penanggung Jawab :
Oleh :
Abdul
Hanif
171201124
HUT
4 C
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah ini. Makalah ini berjudul “Manfaat Ekonomi Cendana (Santalum album) Sebagai Komoditi Kehutanan”
yang disusun sebagai salah satu tugas dalam mengikuti Matakuliah Ekonomi Sumber
Daya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera
Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
dosen penanggung jawab Matakuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, Dr. Agus Purwoko,
S.Hut, M.Si yang telah membantu dan membimbing penulis dalam pelaksanaan hingga
terwujudnya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum
sempurna, baik dari segi teknik penyusunan maupun dari segi materi dan
pembahasan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif
dari para pembaca atau pengguna makalah ini demi penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya.
Medan, April 2019
Cendana
atau Santalum album
Merupakan pohon yang yang jadi primadona lantaran aroma wangi dan harum yang khas.
Kayu cendana dan minyak cendana yang dihasilkan dari pohon ini yang kemudian
menjadikan harga pohon ini sangat mahal. Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae.
Divisi: Magnoliophyta. Kelas: Magnoliopsida. Ordo: Santalales. Famili:
Santalaceae. Genus: Santalum.
Spesies: Santalum album.
Pohon cendana pada abad ke-15 menjadi daya tarik bagi bangsa Eropa untuk
memburunya di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya pulau Sumba. Konon karena
pohon cendana inilah pulau sumba kemudian mendapatkan julukan sebagai Sandalwood Island. Pohon cendana pula yang kemudian
ditetapkan sebagai flora identitas provinsi NTT. Sayangnya pohon cendana saat ini mulai langka, IUCN Redlist pun
memasukkannya sebagai spesies vulnerable.
Pohon cendana di beberapa
daerah di Indonesia dikenal sebagai Candana (Minangkabau) Tindana, Sindana
(Dayak), Candana (Sunda), Candana, Candani (Jawa), Candhana, Candhana lakek
(Madura), Candana (BeIitung), Ai nitu, Dana (Sumbawa), Kayu ata (FIores),
Sundana (Sangir), Sondana (Sulawesi Utara), Ayu luhi (Gorontalo), Candana
(Makasar), Ai nituk (Roti), Hau meni, Ai kamelin (Timor), Kamenir (Wetar), dan
Maoni (Kisar). Dalam bahasa Inggris, tumbuhan cendana disebut sebagai Sandalwood. Sedangkan dalam bahasa latin nama ilmiah tumbuhan ini adalah Santalum album.
Daun dan bunga cendana
(Santalum album). gambar: commons.wikimedia.org
Deskripsi
dan Persebaran.
Secara morfologis tanaman cendana memiliki karakteristik diantaranya pohon
kecil sampai sedang, menggugurkan daun, dapat mencapai tinggi 20 m dan diameter
40 cm, tajuk ramping atau melebar, batang bulat agak berlekuk-lekuk, akar tidak
berbanir. Daun cendana merupakan daun tunggal, berwarna hijau, berukuran
kecil-kecil yaitu (4–8) cm x (2–4) cm dan relatif jarang. Bentuk daun bulat
memanjang, ujung daun lancip, dasar daun lancip sampai seperti bentuk pasak, pinggiran
daunnya bergelombang dan tangkai daun kekuning-kuningan dengan panjang 1 - 1,5 cm.
Pohon cendana mempunyai ciri-ciri arsitektur tanaman berupa batang monopodial,
mengarah ke atas, pertumbuhan kontinyu. Bunga tumbuh di ujung dan atau di
ketiak daun. Berdasarkan ciri-ciri ini, Santalum album L. termasuk model
arsitektur ROUX. Bentuk bunga seperti payung menggarpu atau malai, dengan hiasan
bunga seperti tabung, berbentuk lonceng dan panjangnya ± 1 mm, yang pada
awalnya berwarna kuning, kemudian berubah menjadi merah gelap
kecoklat-coklatan. Inti kayu (empulur) cendana keras, Kulitnya kasar dan
berwarna cokelat tua. Batang yang sudah tua berbau harum. Akar cendana tanpa
banir. Cendana memiliki buah batu berbentuk bulat yang berwarna hitam saat
masak. Cendana tumbuh di tanah yang panas dan kering terutama di tanah yang
banyak kapurnya pada ketinggian hingga 1.200 m dpl.
Cendana merupakan tumbuhan hemiparasit (setengah parasit) yaitu bersifat
parasit hanya dalam sebagian tahap perkembangannya. Pada awal masa
pertumbuhannya kecambah pohon cendana membutuhkan pohon inang untuk mendukung
pertumbuhannya. Cendana memerlukan banyak sinar
matahari dan banyak dijumpai dan tumbuh baik pada hutan-hutan luruh yang
terbuka dan pada daerah pinggiran hutan. Pemanasan yang lama dengan intensitas
cahaya matahari yang tinggi menyebabkan banyak kayu-kayu gubal yang mengelupas,
terutama pada pohon-pohon yang sudah tua; suhu yang tinggi juga dapat membunuh semai-semai
yang baru berkecambah. Akibat mengelupasnya kayu-kayu gubal pada pohon-pohon cendana
yang sudah tua, sehingga bagian kayu yang terbuka akan kelihatan.
Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan. Pohon
cendana dipercaya merupakan pohon
asli Indonesia yang tersebar
secara alami Larantuka (Flores Timur), Adonara, Solor, Lomblen, Alor, Pantar,
Rote, Timor Barat, Sumba, dan Wetar. Saat ini pohon cendana tersebar ke
berbagai pulau di Indonesia termasuk Jawa, Sulawesi, dan Maluku. Bahkan hingga
di beberapa negara seperti India, China, dan Filipina.
Berbicara mengenai penyebaran dan asal dari pohon
cendana, kita tidak dapat lepas dari sejarah perdagangan kayu cendana dan data
tertua perdagangan kayu cendana dari pulauTimor yang tercatat pada abad ke-3.
Sejarah mencatat bahwa Cina merupakan negara utama yang membeli kayu cendana.
Perdagangan awal kayu cendana yang disebutkan di Indonesia, adalah catatan dari
Dinasti Yuan, pada abad ke-12 dan ke-13. Hsing-cha Shenglan pada tahun 1436 sewaktu
Dinasti Ming, menggambarkan gunung-gunung di pulau Timor seperti ditutupi oleh
pohon-pohon cendana dan daerah ini tidak menghasilkan kayu lain, selain kayu
cendana. Memang, perdagangan Cina pada masa itu sangat pesat; kapal-kapal yang
digunakan untuk maksud ini beratnya 1500 ton atau lebih, jauh lebih besar dari
armada Eropa manapun pada waktu itu. Sebagai contoh kapal Vasco da Gama hampir
mencapai 300 ton. Pada abad ke-15, Cina memperoleh kayu cendana melalui pasar
Malaka.
Pasar Cina mengalami masa suram pada awal tahun 1800
dengan persaingan kayu cendana dari India dan dengan adanya penebangan yang ekstentif
di Kepulauan Pasifik. Pasar Cina mengalami perbaikan untuk sementara waktu pada
tahun 1890 dan 1900, karena pasokan Pasifik mengalami penurunan, terutama Kepulauan
Hawaii dan Marquesa kehilangan semua pohon cendananya dalam beberapa tahun, dan
tambahan lagi, kemudian permintaan dari Eropa meningkat. Orangorang Bugis
kemudian memegang peranan penting, mengendalikan perdagangan dari Timor
Portugis (Timor Timur). Sumba, yang secara tradisional dikenal sebagai pulau
cendana (sandalwood island), kemudian dilaporkan benar-benar kehilangan semua
pohon cendananya; baik penduduk di bagian gunung atau pesisir pantai Sumba mengingkari
bahwa pohon cendana pernah ada di pulau tersebut
Pemanfaatan.
Pohon cendana dimanfaatkan terutama sebagai penghasil kayu cendana dan
minyak cendana. Minyak dan kayu cendana umumnya digunakan sebagai wewangian
pada dupa, kosmetik, parfum dan sabun. Kayunya pun dapat dijadikan bahan ukiran
yang indah sekaligus menebarkan aroma harum. Selain itu, pohon cendana kerap
kali dimanfaatkan juga sebagai bumbu makanan dan minuman, aromaterapi, dan obat
tradisional. Cendana memiliki sifat antiplogistik (anti-inflamasi), antiseptik,
antispasmodik, karminatif, astringen, diuretik, emolien, ekspektoran, relaksan
dan tonik. Menilik kemanfaatan pohon cendana dan daerah sebarannya yang asli
Nusa Tenggara Timur tersebut tidak berlebihan jika kemudian tumbuhan ini
dinobatkan sebagai flora identitas (maskot) provinsi Nusa Tenggara Timur. Cendana
merupakan sumber penghasil minyak atsiri dan merupakan komoditi hasil hutan
bukan kayu yang potensial di Provinsi NTT dan tergolong mewah karena sifat kayu
terasnya yang khas dan mengandung minyak dengan aroma yang spesifik. Besar
kecilnya kandungan minyak dan komponen utama dalam minyak tergantung pada faktor
geografis pohon, tumbuhan bawah yang ada di sekitarnya dan cara yang digunakan untuk
penyulingan menghasilkan minyak.
Pemanfaatan kayu untuk pembuatan
minyak cendana dapat dilakukan dengan memanfaatkan batang kayu, ranting, cabang
ranting, dan akar pohon cendana. Minyak cendana dapat diperoleh dengan cara
penyulingan uap langsung dan steam. Rendemen minyak cendana yang diperoleh dengan
cara penyulingan uap langsung (steam destillation) berkisar antara 2-3 %.
Minyak cendana merupakan bahan penting untuk pembuatan parfum dan kosmetik,
selain itu juga dapat dipergunakan sebagai campuran dalam industri sabun.
Minyak cendana merupakan minyak yang sangat harum oleh karena itu minyak ini
dipergunakan sebagai pengikat bahan pewangi lain (fiksasi) yang digunakan dalam
industri parfum, dan hasilnya sebagian besar diekspor. minyak cendana dapat digunakan
untuk menyembuhkan sakit perut, asma, sakit kulit, infeksi ginjal, berbagai peradangan,
obat penenang, obat mengurangi rasa nyeri, anti kanker, anti bakteri, dan aroma
terapi. Ampas serbuk sisa hasil penyulingan kayu cendana masih dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku wangi-wangian, campuran dupa, makmul, dan hio
yang digunakan untuk acara-acara kegiatan ritual atau keagamaan
Konservasi.
Berbagai kemanfaatan dan kegunaan kayu dan minyak cendana menjadikannya
sebagai primadona sejak abad ke-15 silam. Pada masa penjajahan Belanda, seluruh
pohon cendana diberi cap sebagai milik pemerintah Belanda. Bahkan peraturan ini
berlanjut saat Indonesia merdeka hingga tahun 1980-an. Di mana hasil penjualan
cendana harus disetorkan kepada pemerintah Indonesia dan pemiliknya hanya
mendapatkan bagian 15% dari hasil penjualan tersebut. Kebijakan ini yang
kemudian membuat rakyat enggan untuk menanam pohon cendana sehingga cendana
mulai langka. Penyebab kelangkaan pohon cendana lainnya adalah penebangan daneksploitasi
besar-besaran yang tidak diimbangi dengan pembudidayaan yang baik. Apalagi
dengan karakteristiknya sebagai pohon hemiparasit sehingga sukar dibudidayakan.
Menurut data Dinas Kehutanan Kabupaten Timor Tengah Utara, pada tahun 2012
ini tercatat hanya terdapat 45.428 pohon saja di kabupaten tersebut. Jauh
menurun dibandingkan pada tahun 1980-an dimana jumlahnya tidak terhitung. Melihat
keberadaan pohon cendana yang mulai langka itu tidak berlebihan jika
kemudian IUCN Redlist memasukkannya
sebagai spesies vulnerable (rentan) yang
berarti sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan
datang jika tidak ada tindakan penyelamatan yang serius.
Semoga saja, pohon
cendana Sang Flora Identitas Nusa Tenggara Timur yang beraroma wangi dan harum
ini akan tetap lestari dan menjadi primadona.
Komentar
Posting Komentar